Sabtu, 04 September 2010

PROFIL KEPEMIMPINAN NABI NEHEMIA


Nehemia adalah salah seorang pemimpin yang inspirasional di dalam Alkitab. Kadang metode-metodenya tampak tidak masuk akal, namun Tuhan menggunakan metode-metode itu untuk menghasilkan reformasi kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat. Analisis terhadap    kepribadian dan metode-metodenya mengungkapkan bahwa efektivitas metode-metode itu bergantung pada kualitas karakter [Nehemia] sendiri.
          Setelah penulis membaca kitab Nehemia, profil Nehemia menunjukkan ia seorang yang tekun berdoa, artinya, ia seorang yang rendah hati. Nehemia juga seorang yang berani menghadapi bahaya, serta perhatian dan tanggap terhadap kesejahteraan orang lain. Ia juga seorang yang memiliki visi, dapat mengambil keputusan yang jelas, dan seorang yang realistis.
          Sesungguhnya, dari beberapa profil Nehemia tersebut, dapat dikatakan bahwa perbuatan yang dilakukan Nehemia berabad-abad yang lampau dapat dijadikan salah satu teladan untuk memajukan para calon pemimpin Kristen hebat pada masa sekarang.

Profil Kepemimpinan Nabi Nehemia

1. Integritas
          Nehemia seorang yang tekun berdoa. Bagi Nehemia, doa merupakan bagian hidup dan kerja sehari-hari. Doa adalah reaksinya yang pertama ketika ia mendengar kesulitan para emigran di Yerusalem. Nehemia juga bukan seorang yang asing di takhta kasih karunia (Nehemia 1:4, 6; 2:4, 9; 5:19; 6:14, 22, 29) [1].
          Seorang pemimpin Kristen yang efektif haruslah seorang yang sudah dilahirkan baru di dalam Kristus, yang bersih dalam moral, dan menjaga standar kebenaran menurut Tuhan [2]. Kristus datang ke dunia untuk membawa manusia dari kegelapan menuju terang. Kegelapan telah melingkupi watak dan karakter manusia karena Iblis senantiasa berusaha merusak moralitas manusia. Tidak mengherankan bahwa sudah terlampau banyak pemimpin Kristen dan non-Kristen abad sekarang, yang ternyata sudah menyakiti hati rakyatnya dengan tidak  memedulikan keadilan dan kesejahteraan. Salah satu sifat penting kepemimpinan Kristen yang efektif ialah kemampuan untuk menyesuaikan bentuk kepribadian seseorang dengan situasi tertentu [3]. Karakter dan moral yang sudah mulai rusak harus dipulihkan kembali melalui pendamaian oleh Tuhan Yesus, supaya bersih dan dilayakkan untuk menjadi seorang pemimpin umat manusia. Nehemia adalah seorang pendoa karena dia sudah lahir baru. Kebijaksanaan dan hikmat bersumber dari Allah. Sesungguhnya, agar seseorang dapat memimpin atau memberi pengaruh secara rohani kepada orang lain, ia harus memperdalam hubungannya dengan Tuhan [4]. Komunikasi yang dijalin terus-menerus dengan Allah merupakan hubungan yang bersifat supernatural, yang dapat menghasilkan perubahan kepada para pemimpin dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Kalau seorang pemimpin putus hubungan dengan Allah dan orang-orangnya, ia kehilangan sifat rela-diajarnya [5].
          Orang Kristen yang bijaksana adalah orang yang memiliki pandangan yang tepat mengenai anugerah Tuhan. Paulus menekankan hal ini ketika dia menulis kepada Titus: "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita untuk  meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini." (Titus 2:11- 12)
          Pemimpin yang bijaksana adalah seorang yang suka berdoa. Ia akan berlutut dalam doa penyembahan yang penuh kerendahan hati. Kemudian, ia akan naik ke tingkatan yang baru dalam hidup kudus dan benar [6]. Petrus mengatakan hal ini ketika ia menasihati pengikut-pengikutnya: "... kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." (1 Petrus 4:7).
          Salah satu tantangan besar bagi banyak pemimpin Kristen adalah penggunaan kepemimpinan yang tegas. Kebanyakan pemimpin Kristen yang berhati lembut ingin menunjukkan belas kasihan dan cinta seperti seorang hamba. Meskipun kepemimpinan itu di dalam gereja, namun gereja juga adalah satu medan perjuangan rohani dan sering  memerlukan kekuatan kepemimpinan yang tidak selazim di dunia sekuler.
          Konflik dalam pelayanan mungkin merupakan suatu fakta, tetapi [fakta itu] tidak seharusnya menjadi tidak tertangani [7]. Agar dapat bertahan, para pemimpin harus memandang kesulitan sebagai sesuatu yang biasa, bahwa kompleks itu normal [8]. Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus sendiri datang untuk merobohkan dinding permusuhan. Dia   melakukan yang terbaik untuk mempersatukan orang-orang. Dalam Efesus 2:14, "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak, dan yang telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan," Dia menyadari bahwa Ia tidak dapat dan memang tidak    [datang] untuk memenangkan mereka semua. Sementara itu, keinginan-Nya untuk mendatangkan kedamaian bagi semua manusia membuat Dia harus mengurbankan nyawa-Nya, dan itu merupakan tujuan yang berharga dan tetap demikian sampai hari ini, untuk kita semua  yang memimpin.
          Karakter kepemimpinan Kristen adalah kesaksian dan pelayanan yang digerakkan oleh belas kasih Allah. Dengan demikian, dituntut kerendahan hati, kesediaan berkurban, pengosongan diri, penyangkalan diri, dan kerelaan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri [9].
          Nehemia seorang yang realistis. Ia mengetahui bahwa banyak tantangan akan dihadapinya saat ia memimpin pembangunan kembali tembok Yerusalem (4:1-3). Nehemia merendahkan diri di hadapan Tuhan Allah dan meminta pertolongan (4:4-5). Seorang pemimpin pasti akan berhadapan dengan para penentang, sebab ia mengusulkan pembuatan sesuatu yang berbeda. Konflik muncul ketika pemimpin harus  menetapkan suatu pilihan [10].
          Seorang pemimpin harus rendah hati dan realistis, bahwa ia bukanlah Tuhan yang sanggup membuat keputusan tepat. Dia harus mampu meminta saran-saran yang dapat memberi pencerahan. Salomo mengatakan, "Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak." (Amsal 15:22) Seorang yang bijaksana menyadari bahwa ia memunyai pengertian yang terbatas. Ia mengetahui kebutuhan dirinya akan pertolongan. Melibatkan orang lain untuk membicarakan bersama pengambilan suatu keputusan memang bermanfaat[11]. Jika orang mengetahui bahwa mereka mempunyai andil dalam proses pengambilan keputusan itu, mereka akan lebih bekerja sama dalam   pelaksanakan keputusan itu. Banyak keterangan akan diperoleh jika lebih dari satu orang ikut memberikan pertimbangan mereka.
          Tuhan memanggil kita ke sejenis kepemimpinan yang berbeda di antara umat-Nya -­ dengan satu pendekatan, bahwa para pemimpin hadir untuk melayani. "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya." (Markus10:43b-44) Kepemimpinan yang melayani bersumber pada serangkaian nilai, asumsi, dan prinsip yang bertentangan dengan dunia sekuler [12]. Integritas berhubungan dengan nilai. Nilai adalah prinsip dasar subjektif, yang berakar pada pengalaman-pengalaman khas yang   nyata, memengaruhi, dan yang diturunkan, serta kemudian dibakukan menjadi prinsip atau filsafat hidup. [Ia] berperan sebagai landasan untuk paradigma, perspektif, cara bernalar, dan memotivasi, yang dengan sendirinya mengendalikan kebiasaan, sikap, dan tindakan. Nilai-nilai itu serta-merta menentukan kadar dan bobot etika, moral, kebiasaan, sikap, serta perilaku setiap orang. Nilai turut memengaruhi visi pribadi dan visi kepemimpinan setiap orang [13].
          Nehemia memiliki sesuatu yang khas di dalam dirinya [14]. Ia seorang yang peduli kepada orang lain. Tampak jelas, ia memerhatikan kesejahteraan orang lain secara tulus, dan para musuhnya pun mengetahui hal itu (2:10). Ia mengekspresikan perhatiannya dengan  berpuasa, berdoa, dan menangis (1:4-6). Ia menempatkan dirinya bersama dengan bangsanya yang menderita karena dosa-dosa mereka (1:6).
          Nehemia bukan hanya seorang yang berkharisma, ia juga berkarakter baik. Pada masa kini, banyak pemimpin berkharisma tetapi tidak memiliki karakter. Kharisma adalah pesona dan daya tarik pribadi yang besar, tetapi karakter adalah kekuatan moral, etika, dan   integritas [15]. Karakter itu terungkap pada saat kita melakukan sesuatu tanpa kehadiran orang lain yang memperhatikan. Karakter juga tampak ketika kita melakukan sesuatu yang benar bagi orang lain walaupun kita sendiri tidak mengalami kebaikannya. Itulah yang Tuhan   Yesus lakukan di dalam 1 Petrus 2:22-23, "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil."
          Karakter yang baik dan teguh akan mendukung keberhasilan seorang pemimpin. John C. Maxwell [16] mengajukan empat cara untuk membuat kita mendapatkan simpati dari orang yang kita pimpin, yakni: jika Anda terlebih dulu menggerakkan orang-orang dengan perasaan, mereka akan lebih bersedia bertindak; jika Anda terlebih dahulu memberi, orang-orang akan membalas pemberian Anda; jika Anda menarik simpati perseorangan, Anda akan segera diperhatikan orang banyak; jika Anda mengulurkan tangan kepada orang-orang Anda, mereka akan membalas uluran tangan Anda.
          Panggilan tertinggi bagi para pemimpin sekarang ialah panggilan untuk saling mengasihi dengan tulus hati, sebagaimana kita telah saling mengasihi dan mengampuni. Iman membangun iman. Pesimisme berubah menjadi iman [17]. Tugas utama kepemimpinan rohani adalah   pembangunan iman orang lain. Kita sering sulit mendengarkan Roh Kudus membisikkan panggilan ini ke dalam hati kita bila kita telah terlatih lebih mendukung sistem-sistem yang membenarkan dirinya sendiri alih-alih yang lain [18].

2. Pemimpin Visioner
          Nehemia adalah seorang yang berpandangan jauh ke depan. Ia mengetahui bahwa pasti akan bangkit perlawanan, jadi ia meminta sang raja memberikan mandat tertulis agar perjalanannya aman dan ia mendapat dukungan untuk menyelesaikan mandat tersebut, "... memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota ..." (2:8) Ia merencanakan strateginya dengan cermat. Tuhan memakai seorang biasa yang awam, yang memiliki tujuan dan visi yang tidak biasa [19]. Nehemia mengungkapkan visinya dengan istilah yang sesederhana mungkin. Sasaran bangsa itu adalah pembangunan kembali tembok Yerusalem [20].
          Setiap calon pemimpin harus memunyai visi. Tanpa visi, ia tidak mungkin bisa mencapai tujuan. Visi yang jelas akan memungkinkan seorang pemimpin percaya dan yakin. Visi berkaitan dengan penciptaan sesuatu yang baru, tidak mengabaikan yang lampau, tetapi membangun di atas fondasi sebelumnya dan yang akan muncul sebagai realitas yang lebih baik dibanding realitas sekarang. Bila diwujudkan secara penuh, visi itu akan membawa kita lebih dekat pada cita-cita kita [21]. Visi memerlukan tindakan nyata. Pemimpin yang luar biasa  bangun pada pagi hari dengan sebuah rencana dan mengerjakannya. Mereka tidak selalu meminta izin sebelum bergerak. Kepemimpinan adalah memproduksi hasil [22]. Visi kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk melihat dan memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya. Di dalam visi itu, terdapat kehendak Allah yang khusus bagi kepemimpinan seorang pemimpin [23].
          Nehemia memiliki sasaran kepemimpinan. Sasaran Nehemia adalah pembangunan kembali tembok Yerusalem yang telah runtuh dan terbakar (1:3; 2:17). Nehemia mengajak penduduk dan mereka mendukungnya. Mengapa pemimpin perlu memunyai sasaran? Paling sedikit terdapat tiga alasan, antara lain [24]:
a.    Pengarahan. Pemimpin memerlukan sasaran untuk mengarahkan kehidupannya. Tidak mungkin seseorang terus melangkah maju menuju tujuan jika ia tidak memunyai tujuan tertentu.
b.    Kemajuan. Sasaran itu penting untuk memastikan bahwa akan ada suatu kemajuan. Jika gereja tidak memiliki suatu sasaran utama, yang dijadikan tujuan dan diperjuangkan oleh seluruh orang percaya di dalam jemaat itu, gereja mungkin seolah-olah tampak sibuk dengan program itu, tetapi sebenarnya tidak mengalami kemajuan apa pun.
c.    Hasil yang dicapai. Pelaksanakan sasaran itu sampai selesai penting untuk memberikan suatu hasil. Jika tidak ada sasaran tertentu, tidak akan pernah diketahui keberhasilan atau   ketidakberhasilan pelaksanaan program itu. Setelah penentuan sasaran, dilanjutkan dengan pelaksanaan. Jika tidak ada pelaksanaan, sasaran itu hanya sekadar satu ide mistik saja.       Kekristenan bukan sebuah filsafat yang sebatas ide saja, melainkan suatu cara hidup yang harus diterapkan dan dilaksanakan [25].

3.   Pembuat Keputusan yang Jelas
          Nehemia dapat membuat keputusan-keputusan yang jelas. Ia tidak menghindari kata-kata keras, melainkan berbicara langsung mengenai inti permasalahan dan membuat penilaian.  Dan keputusan-keputusannya tidak berat sebelah; ia tidak memandang bulu. Ketika kecaman   dibutuhkan, ia memberikannya kepada para pejabat dan eksekutif sebagaimana kepada para pekerja (Nehemia 5:7). Kadang-kadang perlawanan mengembangkan kerendahan hati untuk melindungi kita dari kebanggaan yang sia-sia [26].
          Pada umumnya orang tidak menyukai masalah, cepat bosan kepada  masalah, dan akan melakukan hampir apa saja untuk melepaskan diri dari masalah. Keadaan membuat orang lain meletakkan kendali kepemimpinan di tangan seseorang -­ kalau dia bersedia dan mampu   menangani masalah mereka atau melatih mereka untuk memecahkan masalah. Keahlian memecahkan masalah seorang pemimpin harus dipertajam karena setiap keputusan menjadi keputusan besar [27]. Raja Salomo merupakan satu contoh pemimpin yang memiliki fungsi  kreativitas dalam memecahkan masalah, saat dia mengancam untuk membelah dua bayi.
          Dalam kepemimpinan gereja, pelatihan inovasi sangat diperlukan. Inovasi sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi oleh masyarakat, sebagaimana Yesus berkata, "hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti   merpati" (Matius 10:16b), artinya selalu kreatif-inovatif tetapi tetap menjaga ketulusan dan integritas [28].
          Kebimbangan dalam mengambil keputusan telah mengganggu efektivitas banyak pemimpin. Pembuat keputusan yang tidak efektif pada dasarnya mengandung dua masalah: keragu-raguan untuk membuat keputusan dan membuat keputusan yang tidak tepat. Satu keputusan yang salah dapat membawa pemimpin ke jalan buntu atau ke jalan yang menuju  kehancuran. Sebagai seorang pemimpin, soal mengambil keputusan itu merupakan seni yang harus dikuasai [29]. Kennet O. Gangel membagi permasalahan mengapa pemimpin ragu dalam membuat keputusan ke dalam empat bagian [30], yaitu:
a.    Kurangnya tujuan yang jelas. Kadang-kadang para pemimpin tidak bertindak karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
b.    Ketidakmantapan dalam kedudukan atau otoritasnya. Kadang-kadang pemimpin takut bertindak karena takut akan akibatnya.
c.    Kurangnya informasi. Pemimpin yang tidak secara aktif mencari semua informasi yang      dapat ia peroleh sebelum memberikan keputusannya berarti melumpuhkan dirinya sendiri dalam proses pembuat keputusan.
d.    Ketakutan akan perubahan. Banyak pemimpin ingin mempertahankan "status quo". Karena       sebagian besar keputusan menghasilkan semacam perubahan, keputusan selalu tampak sebagai ancaman terhadap operasi-operasi yang sedang berlaku.

4.   Pemimpin yang Bertanggung Jawab
          Di dalam usaha apa pun, pemimpinlah yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan misinya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi dan semangat juang, dan salah safu factor kuncinya adalah tanggung jawab [31]. Nehemia menerima tanggung jawab   dengan maksud terus mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem. Nehemia sudah siap untuk hal yang terburuk [32].
          Yesus mendefinisikan kepemimpinan sebagai pelayanan, dan itu berlaku baik dalam organisasi sekuler ataupun gereja. Gaya kepemimpinan Yesus adalah menjadi seorang hamba, meski Dia sungguh memiliki semua kuasa dan otoritas surgawi [33]. Ia menunjukkan simpati pada masalah orang lain, namun simpatinya menguatkan dan membangkitkan semangat; tidak melunakkan dan melemahkan. Disiplin adalah tanggung jawab lain dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik. J. Oswald Sanders mengatakan: "Masyarakat Kristen apa pun membutuhkan disiplin yang benar dan penuh kasih untuk mempertahankan standar-standar ilahi dalamdoktrin, moral, dan perbuatan" [34].
          Sering kali pemimpin tergoda untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atas sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan [35]. Seorang pemimpin memiliki banyak elemen dalam hal tanggung jawab. Pertama, pemimpin sejati terutama peduli pada kesejahteraan orang lain, bukan kenyamanan atau   kedudukannya sendiri. Pemimpin rohani selalu mengarahkan keyakinan orang lain kepada Tuhan. Ia melihat dalam setiap keadaan untuk menolong. Kedua, disiplin adalah tanggung jawab dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik. Paulus menjelaskan roh yang harus dimiliki para pemimpin yang memberikan disiplin. "Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10). Ketiga, para pemimpin harus memberikan    bimbingan. Pemimpin rohani harus tahu ke mana ia akan pergi sebelum memimpin orang lain. Pemimpin harus berjalan di depan kawannnya. Bersedia mengambil tanggung jawab merupakan tanda seorang pemimpin. Yosua adalah orang seperti itu. Ia tidak ragu-ragu mengikuti salah    seorang pemimpin terbesar seperti Musa [36].
          Salomo menyebutkan lima hal yang merupakan tanggung jawab seorang  pemimpin.
1.    Menegur atau mengoreksi. Ada kalanya seorang pemimpin melihat serangkaian tindakan yang salah tetapi tidak bersedia menegurnya karena takut tidak akan disukai orang. Salomo berkata, "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat." (Amsal 28:23)
Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang berbagai bahaya yang ada di depan. Dia khususnya memperingatkan Petrus bahwa dia akan mengkhianati dan mengecewakan-Nya, dan Petrus memang melakukan itu. Apa yang mengubah Petrus kembali? Yesus yang mengubahnya. Meskipun Petrus menyangkal Yesus tiga kali, tiga kali pula Petrus diberi kesempatan untuk menegaskan kembali kasih dan komitmennya untuk memelihara domba-domba Yesus. Petrus belajar sesuatu tentang kemarahan dari Yesus; kemarahan Yesus itu bisa menjadi hal yang paling disukai di dunia. Dalam mengembangkan para pemimpin, perlu mengetahui bahwa mereka akan gagal. Ketika itu terjadi, mereka perlu dikoreksi, dorongan semangat dan kesempatan untuk mulai     lagi [37].
2.    Bertindak dengan tegas. Salomo mengatakan bahwa apabila seseorang membiarkan tingkah laku yang tidak benar dengan mengatakan ia tidak mengetahuinya, ia masih harus bertanggung jawab di hadapan Allah yang menguji hati, dan membalas manusia     menurut perbuatan-Nya (Amsal 24:11-12). Pemimpin perlu mendorong orang untuk lebih baik, atau bila perlu memecat yang tidak produktif [38].
Dalam kepemimpinan Nehemia, dia terus menggalakkan kerja sama di antara bangsa itu. Ia menghentikan praktik lintah darat dan ia menciptakan persatuan di antara penguasa yang kaya dengan orang-orang yang merasa tertindas. Ia juga mempersatukan       orang-orangnya dan memberi mereka makan dari uangnya sendiri. Tanpa kerja sama, tembok Yerusalem itu takkan berhasil dibangun kembali [39].
3.    Mendengarkan kritik. Pemimpin bertanggung jawab untuk mendengarkan kritik dari rekan-rekannya. "... siapa mengindahkan teguran adalah bijak." (Amsal 15:5) Menangani pengkritik, pengeluh, dan bahkan sering kali si mulut besar adalah pelayanan rutin. Tetapi tidak semua kecaman keras merupakan kritik rutin. Ada batas yang halus antara mudah tersinggung dan keras kepala. Untuk menjadi seorang pemimpin, terutama pemimpin rohani yang berhasil, seseorang harus memiliki pikiran seorang sarjana, hati seorang anak, dan kulit seekor badak [40].
4.    Bersikaplah jujur. Pemimpin bertanggung jawab untuk menjaga agar setiap hal terbuka dan jujur. "Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya." (Amsal 18:7) Keterbukaan berarti tidak mengandalkan kekuatan dan      pengertian sendiri. Pemimpin yang tidak mau diajar hampir selalu putus hubungan dengan Allah serta orang-orangnya [41].
5.    Bersikaplah adil. Pemimpin bertanggung jawab untuk bertindak adil terhadap bawahannya. "Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat." (Amsal 11:1) Keprihatinan adalah hasrat untuk melakukan      sesuatu yang menguntungkan bagi orang lain. Kalau hati terusik untuk melayani, kecil kemungkinannya bersikap untuk mementingkan diri sendiri [42].

5.   Administrator yang Baik
          Administrasi adalah pengaturan orang-orang dalam perkumpulan untuk meraih tujuan bersama. Salah satu unsur penting dalam administrasi adalah kesanggupan untuk bergaul dengan orang secara benar-benar ramah, sopan, tetapi mantap [43].
          Nehemia adalah seorang pemimpin yang tidak melakukan pekerjaan dengan serampangan. Nehemia mengorganisasikan orang-orangnya menurut keluarga dan menurut prioritas yang telah direncanakannya, mulai dari gerbang kota tersebut. Tembok Yerusalem berhasil dibangun kembali karena kemampuan Nehemia untuk bekerja sama dengan orang   lain dan memimpin mereka ke mana mereka harus menuju. Dia berupaya melibatkan sebanyak mungkin orang dalam prosesnya dan bergerak maju dengan mereka yang sudah siap. Dia organisasikan mereka dalam kelompok-kelompok alami berdasarkan hubungan [44].
          Persatuan mendorong pengaruh yang kuat. Persatuan penting bagi suatu tim agar menjadi terfokus pada tujuan. Hati, kemauan, dan kekuatan anggota tim harus dipersatukan dengan tujuan dan arah yang sama [45]. Mendengarkan masukan atau dorongan dari bawahan merupakan suatu karakter kepemimpinan yang demokratis. Kepemimpinan jenis ini lebih bertahan lama daripada pemimpin yang menggunakan otoritas tanpa mau bekerja sama dengan orang lain terutama untuk membuat suatu keputusan.

Kesimpulan
          Nabi Nehemia telah menunjukkan gaya kepemimpinan yang dapat menjadi salah satu teladan di antara banyak tokoh pemimpin dalam Alkitab. Integritas merupakan kriteria utama dalam diri seorang pemimpin Kristen yang baik dan besar. Keputusan-keputusan yang memengaruhi  banyak orang diawali dari karakter.
          Nehemia adalah pemimpin yang memiliki kasih dan tanggung jawab dan yakin akan visinya bahwa Allah menuntunnya untuk melaksanakan satu pekerjaan yang menurut orang lain merupakan sesuatu pekerjaan yang tidak mungkin. Namun apa pun kritik banyak orang kepada Nehemia, dia tetap teguh dan fokus kepada tujuan dengan tetap rendah hati meminta  kekuatan dan petunjuk dari Allah lewat doa.
          Nabi Nehemia berhasil membangun kembali tembok Yerusalem. Pekerjaan berat namun dia menjadi seorang pemimpin yang mampu sampai pada sasaran. Kepuasan total dia peroleh bersama dengan orang-orang yang mendukungnya.


Daftar Pustaka:

Barna, George. 2002. "Leaders On Leadership". Malang: Gandum Mas.

Eims, Leroy. 2003. "12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif". Bandung: Kalam Hidup, 2003.

Gangel, Kenneth O. 1998. "Membina Pemimpin Pendidikan Kristen". Malang: Gandum Mas.

Gordon, Bob. 2000. "Visi Seorang Pemimpin". Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000.

Harefa, Andrias. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT,  2001.

Maxwell, John C. 2002. "21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari Pemimpin Sejati". Batam Centre: Interaksara.

Meyer, Joyce. 2002. "Membangkitkan Roh Kepemimpinan". Jakarta:  Trinity Publishing.

Rinehart, Stacy T. 2003. "Paradoks Kepemimpinan Pelayan". Jakarta: Immanuel.

Sanders, Oswald, J. 2002. "Kepemimpinan Rohani". Batam Centre: Gospel Press.

Sinamo, Jansen H. 2001. "Kepemimpinan Kristiani". Jakarta: UPI STT, 2001.

Tomatala, Yacob. 2005. "Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner". Jakarta: YT Leadership Foundation.

Zenger, John H., and Joseph Folkman. 2004. "The Handbook ForLeaders". New York:  McGrawHill.

Catatan kaki:

[1] J. Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani. (Batam Centre: Gospel Press, 2002, hlm. 280.)
[2] George Barna, Leaders On Leadership. (Malang: Gandum Mas, 2002, hlm. 103.)
[3] Kenneth O. Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen. (Malang:  Gandum Mas, 1998, hlm. 104.)
[4] Stacy T. Rinehart, Paradoks Kepemimpinan Pelayan. (Jakarta: Immanuel, 2003, hlm. 114.)
[5] John C. Maxwell, 21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari Pemimpin Sejati. (Batam Centre: Interaksara, 2002, hlm. 123.)
[6] George Barna, Op. Cit., hlm. 108.
[7] George Barna, Ibid., hlm. 146.
[8] J. Oswald Sanders, Op. Cit. hlm. 228.
[9] Andrias Harefa, Kepemimpinan Kristiani. (Jakarta: UPI STT, 2001, hlm. 34.)
[10] George Barna, Op. Cit., hlm. 141.
[11] Leroy Eims, 12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif. (Bandung: Kalam Hidup, 2003, hlm. 149-150.)
[12] Stacey T. Rinehart, Op. Cit, hlm. 38-39.
[13] Yacob Tomatala, Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner. (Jakarta : YT Leadership Foundation, 2005, hlm. 56-57.)
[14] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 280.
[15] Joyce Meyer, Membangkitkan Roh Kepemimpinan. (Jakarta: Trinity Publishing, 2002, hlm. 304.)
[16] John C. Maxwell, Op. Cit, hlm. 194-195.
[17] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 282.
[18] George Barna, Op. Cit., hlm. 94-95.
[19] Joyce Meyer, Op. Cit., hlm. 353.
[20] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 84.
[21] George Barna, Op. Cit., hlm. 56.
[22] John H. Zenger and Joseph Folkman, The Handbook For Leaders. (New York : McGrawHill, 2004, hlm. 13-14.)
[23] Yacob Tomatala, Op. Cit., hlm. 24.
[24] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 124-125.
[25] Bob Gordon, Visi Seorang Pemimpin. (Jakarta : Nafiri Gabriel, 2000, hlm. 84.)
[26] George Barna, Op. Cit., hlm. 137.
[27] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 87-88).
[28] Jansen H. Sinamo, Kepemimpinan Kristiani. (Jakarta: UPI STT, 2001, hlm. 143-144.)
[29] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 143
[30] Kenneth O. Gangel, Op. Cit., hlm. 164-165.
[31] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 14.
[32] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 84.
[33] Stacey T. Rinehart, Op. Cit, hlm. 76.
[34] J. Oswald Sanders, Op. Cit., hlm. 217.
[35] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 15.
[36] J. Oswald Sanders, Loc. Cit.
[37] George Barna, Op. Cit., hlm. 159.
[38] John H. Zenger and Joseph Folkman, Op. Cit., hlm. 38.
[39] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 85.
[40] George Barna, Op. Cit., hlm. 136.
[41] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm.115
[42] Ibid., hlm. 77.
[43] Kenneth O. Gangel, Op. Cit., hlm. 142-143.
[44] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 82-84.
[45] George Barna, Op. Cit., hlm. 291.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar